Kamis, 19 Mei 2016

BERLALU




Seribu daun t'lah jatuh di belakangku
Setiap derap kaki jatuhnya silih berganti

Membentuk benteng rapuh
Yang ku bisa hancurkan

Seribu daUn t'lah jatuh di belakangku
Menghapus jejak tadi dan dulu
Menghapus tiap kenangan sepatuku dan jalan itu

Bukan pilihanku membiarkan 
Akan ku buka kembali jalan itu
Akan ku singkirkan dedaunan
Akan ku tebas rumput yang telah menjalar
Agar aku bisa melihat masa lalu
Walau tak dapat ku pegang

Setiap mata memandangi 
Pagi selalu ku rasa
Dan ku yang kini berdiri
Telah berada di siang hari
Setelah pagi berlalu dan kini berganti

Setiap tatapanku
Aku senang bahagia
Pilu dan duka

Aku ingin pergi ke ruang itu 
Aku ingin merubah diriku 
Bukan seperti itu 
Tapi seperti ini
Aku tak mau begitu 
Aku mau yang begini

Andai lorong waktu ku temui 

Minggu, 31 Januari 2016

Salju yang Tak Padat

Sore yang dingin
Salju bergulir di tengah permukiman
Salju yang sudah biasa dipandang
Salju yang tak padat

Malam
Salju tak lagi turun 
Hawa tinggal di permukiman
Dingin menusuk badan
Sebab salju tinggalkan jejak

Disini
Melitasi jalan mengarungi jejak salju
Melangkah merusak jejak salju
Bernapas menghangatkan jejak salju

Kini
Jejak salju telah ku tinggal di luar
Duduk di tempat yang lebih hangat
Melewati detik demi detik


Sabtu, 30 Januari 2016

Bukti Cinta Alam

Wah, ku pandang dunia begitu indah
Ku lirik keluar lubang begitu mewah
Andai ku bisa menikmatinya
Andai ku bisa membaur dengannya
Detik demi detik habis
Hanya untuk berfoya belaka

Hancur harapan
Musnah pikiran
Semua amburadul tak karuan
Hati kotor
Mata buta
Telinga tak lagi mendengar
Akan alam yang setiap kali memberi peringatan

Aku
Bukan
Kamu
Bukan
Lalu siapa yang diberi peringatan

Sadar
Kita itu satu
Bukan pecahan
Kita yang diberi peringatan
Kita yang acap kali dinasehati
Itu bukti cintanya alam

Tak ingin kita berujung luka
Tak tergores keinginan untuk lara
Semua untuk kita

Hujan

Setetes air berjuta kawan
Tak terbendung awan yang keberatan
Jatuh di wajah ciptaan Tuhan
Mengguyur tanah yang rapuh dan penuh harapan
Penantian panjang yang selalu diharap
Akan kehadiranmu
Yang tak terusik oleh tangan-tangan kumuh
Dibelahan bumi tak berujung
Semua tertawa
Semua bahagia
Menyambut kau turun dari langit nan biru itu
Berujung senja
Sang surya berubah warna
Berpengang tangan dengan fenomena alam
Dialah lengkugan warna-warna
Setiap mata memandang
Tergambar masa depan cerah di depan mata
Berbinar-binar arti sebuah kebahagiaan
Rasa puas yang hati rasakan
Pada bentangan alam penuh pesona


Sabtu, 23 Januari 2016

Teman


Anugerah Yang Maha Kuasa
Mempersatukan hati dan pikiran
Mengubah lara menjadi gairah hidup

Kesenangan yang tak terbayar
Akan arti dari rasa itu
Hanya hati yang merasa
Hanya hati yang mengira
Tapi tak terucap adanya

Hangat surya menaungi bumi
Hangat pertemanan menaungi hati
Segala resah dan gelisah terobati
Rasa duka berubah jadi suka

Teman...
Profesi yang tak hanya menanggung satu profesi saja
Di kala sedih kau jadi penghibur
Di kala bimbang kau jadi penasehat dan soerang guru
Kau datang sesuai keadaan
Kau tahu bagaimana perasaan
Di pikiranmu telah terlukis segala rasa
Yang sedang ada pada temanmu
Kau bawakan canda
Kau bawakan kasih sayang
Untuk orang-orang di sampingmu

Suasana Pagi

Semilir angin berhembus
Mengayun-ayun dedaunan
Surya telah hadir
Di tengah keramaian makhluk Tuhan

Semua menapaki bumi kian kemari
Mencari berkah kehidupan

Pandang-memandang alam
Meramal apa yang akan alam lakukan
Sebelum beranjak dari kediaman menuju tujuan

Sawah ladang tak tertinggal
Tak menghirau ramalan
Karena sumber penghidupan padanya

Tak luput kewajiban ditanggung
Tak boleh tinggal sama sekali
Tak ada itu tak ada kehidupan
Makhluk Tuhan Semesta Alam

Jejak-jejak di bumi telah terlihat
Tanda bahwa masih ada kehidupan
Yang masih bergantung pada ciptaan-Nya